Senin, 09 Februari 2009

Menyusuri Hutan Rakyat di Hargobinangun

Hutan rakyat adalah hutan yang dibangun dan dikelola oleh rakyat, kebanyakan berada di atas tanah milik atau tanah adat; meskipun ada pula yang berada di atas tanah negara atau kawasan hutan negara. Pada waktu ini saya dan rombongan berkesempatan menyusuri hutan rakyat di desa Hargobinangun.

Hutan ini terletak pada ketinggian antara 800-900 mdpl berada di desa Hargobinangun Pakem Sleman. Di desa ini sendiri terdapat beberapa kelompok tani hutan yang merupakan gabungan dari masyarakat petani hutan, yakni diantaranya wana lestari, ngudi lestari, sedyo makmur dll. Satu kelompok tani ini biasanya menggarap areal hutan seluas ± 25 ha atau setara dengan 25.000 m2.

Kelompok tani hutan di dukuh kaliurang timur ini oleh masyarakat setempat sepakat disebut dengan nama kelompok tani hutan Sedyo Makmur. Kelompok ini beranggotakan hingga ratusan orang dengan rata-rata lahan garapan 200m2/pemilik. Hutan ini berbatasan langsung dengan kawasan hutan negara di sebelah utara, di sebelah selatan dan timur berbatasan dengan kalikuning dan kaligondang di sebelah barat

Lahan garapan berasal dari lahan pribadi atau person maupun tanah kas kelurahan. Petani yang menggarap tanah kas kelurahan diberlakukan sistem sewa tanah pertahunnya. Masyarakat disini umunya beternak sapi atau kambing sehingga di lahan hutan akan sering dijumpai rumput gajah yang malah menjadi tanaman utama petani sebagai hMT (Hijauan makanan Ternak).

Tanaman yang sering dijumpai di kawasan hutan ini yakni mindi (Melia azedarach), sengon (Paraserianthes falcataria), kaliandra, bambu dengan berbagai jenis serta nangka dan masih banyak lainnya. Hutan rakyat disini pada umumnya berbentuk wanatani atau agroforestry; yakni campuran antara tanaman berkayu keras dengan jenis-jenis tanaman bukan pohon yang strukturnya mirip dengan hutan alam.

Hutan rakyat disini juga berlaku sistem adopsi pohon, yakni pohon ditunda waktu poenebangannya. Dalam jangka waktu yang ditentukan, seorang pengadop akan membayarkan sejumlah uang sebagai kompensasi. Pengadop biasanya merupakan tokoh-tokoh penting di masyarakat bahkan nama ketua MPR pun tercantum disini.

bahwa berpetualang=belajar, seorang petualang itu pasti berwawasan luas.

petualang akan selalu lebih tahu daripada orang yang keep silent,

Kamis, 05 Februari 2009

Candi CetHo di Puncak PerkebuNan Teh Kemuning


PerjaLanan secara tidak sengaja ini terjadi ketika kami bingung mau pergi kemana tiada tujuan. saat itu kami tengah berada di petigaan ngargoyoso, Tawangmangu dan Karanganyar. seketika itu kubaca tulisan, perkebunan teh Kemuning 8km. Laju motor pun bergerak kearah kiri, jalanan menanjak tikungan tajam mewarnai perjalanan kali ini. hamparan sawah padi nan menghijau di lreng barat gunung Lawu melengkapi indahnya hari itu.









Kurang lebih setengah jam hamparan bukit teLetubbies tampak di depan mata, perkebunan teh Kemuning sekan bak permadani rumput di atas bukit dengan ketinggian kira 1350 mdpl memang mirip bukit teLetubbies dari kejauhan. Di tengah perjalanan kami melihat sarang tawon di pucuk pohon sengon setinggi kira-kira 20m. enatah sudah berapa tahun sarng itu terbentuk saking besarnya tak terbayangkan bila sarang itu diganggu...sengat tawonnya pasti Wuuiiiiihhh serem.

Jalan yang terus menanjak membuat kami berhenti sejenak melepas penat , menikamti bukit teletubbies , menghirup segarnya hawa dan mengamati dari jauh ibu-ibu yang tenah memetik daun teh. kulihat bunga teh di depanku, tak perlu berlama-lama segera kupetik dan kucium wanginya hingga hidungku pun menjadi penuh warna kuning tertempeL benengsarinya. dan tak Lupa kupetik beberapa pucuk daun teh, sok-sok'an mau bikin teh sendiri.

SeteLah puas kami kembali melanjutkan perjalanan menyussuri tea garden, hingga menemukan persimpangan jalan JenaWi atau candi Cetho. arah Candi Cetho kami pilih, begitu kami menanjak dari kejauhan di kiri jalan tampak 2 air terjun begitu megahnya diantara tebing-tebing kapur, kami berhenti lagi menikmati godanya dan tampaknya air terjun ini belum di jadikan obyek wisata karena akses jalan yang masih sulit dan letaknya yang masih sulit dijangkau kendaraan.

Terik matahari segera mengingatkan kami untuk segera melanjutkan perjalanan menuju Candi cetho, meski air terjun terus merayu agar kami tetep berhenti. kami terus beranjak, motorpun harus bergerak sekuat tenaga untuk mencapai Candi Cetho, makLum Candi Cetho ini berada di puncak bukit dengan ketinggian 1400 mdpl.

Candi Hindu ini memiliki 14 teras berundak dengan sisa-sisa batuan masa lalu yang masih kokoh. untuk sampai ke puncak candi ini kami harus menguras energi karena tingginya dan bentuknya yang berundak-undak. jika keluar dari komplek candi maka akan menemukan puri Saraswati yang ternyata termasuk dalam kawasan perum perhutani KPH Lawu yang banyak ditumbuhi puspa dan pinus.

Tak hanya itu di bawah bukit sana terdapat sungai dari mata air gunung Lawu. air yang mengalir di sela-sela batuan hasil letusan gunung Lawu begitu dingin, airnya yang jernih tak meragukan untuk diteguk. rasanya segarrrrr!!!

Kabut mulai naik dan menabrak kami, kamipun harus segera naik kembali sebelum hujan datang mengguyur. tak hanya candi di lokasi terdapat pos pendakian gunung Lawu hiJJau, ya kurang lebih 10 jam'an Lah untuk pendaki-pendaki seperti kami aLias bukan ahLinya.

PeLajaran di catatan petualang kali ini,
"bahwa tanpa rencanapun, seorang petualang pasti akan menemukan suatu tempat nan indah"




Senin, 02 Februari 2009

_aWaLnya_

petualang iTu baK burung yang Terbang bebAs di anGkasa,

dia pergi kemnapun iA suKa & taK ada seoRangpuN yang bisa menGhaLangi keinginaNnya,

baginYa menemuKan dan meLihat temPat2 bRu yanG menaKjubkan mrupKn kebaNggan & kepUasan batIn t'sendiRi...

petUaLang ga' harus kaYa, g'a hRus pergi ke tempaT yg JauH dan sudaH diKeNaL banYak oranG, kRn dia meLihaT yang orang Lain tdK liHat, meniKmati yang terLwatkan By anotHer, mendengaR desau aLam dan memBaca indahnYa duNia LeWat hatinya.

NeVeR enDing petUaLang, it's Me

eN U??